0 item in the bag

No products in the cart.

Mengapa Air Asia?

Berita tentang Kemenpar yang menggandeng Air Asia dalam rangka kerja sama pariwisata sedang ramai disorot oleh public. Beritanya yang sempat saya copy dari web indonesiainside.id/ekonomi adalah: “Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menggelontorkan Rp4,3 miliar untuk mendukung kegiatan promosi AirAsia. Biaya ini dikeluarkan dalam rangka mendongkrak promosi wisata Wonderful Indonesia. Sebagai gantinya, AirAsia berkomitmen mendatangkan lebih dari 15.000 wisatawan melalui rute baru Perth-Lombok. Rute baru ini akan melakukan penerbangan perdana pada 9 Juni 2019.”

Tentu saja, berita tentang pemerintah yang memilih bekerjasama dengan maskapai swasta asing seperti ini, pada situasi dan kondisi politik yang sedang ‘panas’ pasca pemilihan Presiden, akan mudah ‘digoreng’ menjadi gorengan politik yang menggiring opini masyarakat bahwa pemerintah berpihak kepada asing daripada kepada BUMN miliknya sendiri. Apalagi melihat kucuran dana kepada Air Asia sebesar Rp4,3 miliar tersebut. Bahkan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) sudah mempertanyakan hal itu dalam keterangan tertulisnya.

Saya bukan pendukung Kemenpar dalam hal keputusan ini, namun sebagai orang yang pernah berada di area kerja penerbangan selama 23 tahun, saya akan melihat dari sisi potensi maskapai Air Asia dan mengapa bukan Garuda Indonesia dalam hal promosi Wonderful Indonesia, khususnya wisata Lombok untuk wisatawan luar negeri.

Apabila kita melihat tahun 2018, bulan Agustus, dari berita liputan6.com yang menulis: “Hampir sebulan setelah gempa Lombok, maskapai Garuda Indonesia mulai membuat rencana untuk membangkitkan kembali ekonomi pariwisata di daerah tersebut. Salah satu cara yang diupayakan adalah menggandeng Kementerian Pariwisata (Kemenpar).” Dari berita ini kita melihat bahwa Garuda Indonesia bukan tidak berperan sama sekali dalam promosi Wisata Wonderful Indonesia bersama Kemenpar. Untuk pasar domestik, Garuda Indonesia sudah menjadi ajang promosi untuk Wisata Wonderful Indonesia. Dalam hal ini, bukan hanya wisata Lombok, namun Garuda telah menyiapkan 5 destinasi domestik unggulan lain, yakni Bali, Yogyakarta, Malang, Sorong dan Tanjung Pinang. 

Dari berita di ekonomi.kompas.com bulan Desembar tahun 2018 disebutkan bahwa: “AirAsia Indonesia merupakan bagian dari AirAsia Group, grup maskapai penyumbang jumlah penumpang internasional terbesar di Indonesia. Sementara Garuda Indonesia Group adalah salah satu yang terdepan untuk segmen pasar domestik.” Dari keterangan ini, tentu saja kita melihat bahwa penyumbang jumlah penumpang internasional terbesar Indonesia adalah Air Asia dan bukan Garuda Indonesia.

Target Kemenpar untuk Lombok kali ini yang dikembangkan setelah pasar domestik dipercayakan kepada Garuda Indonesia, maka pasar Internasional dipercayakan kerjasamanya kepada Air Asia, di mana Air Asia berkomitmen mendatangkan lebih dari 15.000 wisatawan asing melalui rute baru Perth-Lombok.  Di sini kita harus mengakui bahwa Garuda Indonesia belum mampu menyumbang jumlah wisatawan internasional masuk ke Indonesia sebanyak Air Asia. Bahkan Direktur Utama Garuda Indonesia, I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra atau yang dikenal Ari, mengakui kekuatan Air Asia untuk penerbangan internasional (ekonomi.kompas.com – Desember 2018).

Bagi saya pribadi, keputusan Kemenpar untuk memilih Air Asia dalam bekerjasama untuk promosi Wisata Wonderful Indonesia, dalam hal ini wisata Lombok dan masih spesifik lagi yaitu mendatangkan 15.000 wisatawan luar negeri dari rute Perth – Lombok, sudah tepat mengingat potensi Air Asia itu sendiri dalam menyumbang jumlah penumpang internasional ke Indonesia yang belum dapat dikalahkan oleh Garuda Indonesia.

Apabila kita tidak melihat dari beberapa sisi peran maskapai BUMN kita dan berita tentang kerjasama Kemenpar dengan Air Asia, maka sangat mungkin akan muncul lagi kalimat negatif tentang Presiden kita seperti ini, “Gara-gara Jokowi, kerjasama pariwisata saja memilih dengan penerbangan swasta luar negeri. Mengapa tidak bangga dengan BUMN sendiri?”

Namun, karena saya bukan juru bicara Kemenpar dan hanya menyumbang pemikiran dari sudut penerbangan yang pernah saya jalani, alangkah baiknya Kemenpar menjelaskan sendiri alasannya, mengapa bekerjasama dengan Air Asia.

Atau tulisan ini mau dibuat sebagai penjelasan resmi dari Kemenpar? Silahkan apabila bermanfaat.

‘Take for Free’

Leave a response