0 item in the bag

No products in the cart.

KEPEMIMPINAN

Categories: ,

Description

KEPEMIMPINAN

Banyak orang yang kecewa karena setiap ia mengharapkan sesuatu dan mengusahakan sesuatu akan berakhir dengan kegagalan. Banyak pula para pemimpin yang merasa gagal dalam kepemimpinannya, dan ia kemudian bersembunyi di balik kata “sebaiknya saya turun saja.”

Kata itu terlihat seperti pahlawan. Terdengar seperti sang pemimpin bertanggung jawab atas kegagalan yang ia perbuat. Namun sesungguhnya itu adalah sebuah pelarian yang sangat halus sekali. Mengapa?

Memang benar bahwa berhasil atau gagal adalah sebuah resiko yang harus ditanggung. Kalau ada keberhasilan tentu juga ada kegagalan. Namun pemaknaan sebuah kegagalan atau keberhasilan harus dengan penuh kesadaran. Kalau seorang pemimpin gagal dan ia meletakkan jabatan begitu saja, dan penggantinyapun demikian, sampai kapankah ajang kepemimpinan menjadi ajang coba dan taruh begitu saja? Dimana rasa tanggung jawab seorang pemimpin dengan keadaaan seperti itu?

Bisa jadi ia adalah orang yang hanya akan mengeruk keuntungan pribadi dari kepemimpinannya dan kemudian sengaja bersembunyi di balik kata kegagalan untuk menyudahi permainannya? Ya, mengapa tidak?

Mengapa kejadian itu sering kita dengar?

Yang pertama adalah belum siapnya kita menjadi ‘abdi’. Kita menjadi pemimpin masih ingin dilayani, masih ingin diperhatikan. Nafsu kita menjadi pemimpin masih membara. Saat duduk di kursi kepemimpinan nafsu-nafsu hewan kita masih berkobar-kobar.

Dengan pikiran terbuka, dengan keluasan hati marilah kita mencoba jujur bahwa memang masih banyak sekali para pemimpin yang nafsu-nafsu hewannya masih berkobar-kobar, masih membara! Dan itulah penyebab utama sebuah kegagalan. Sayangnya mereka itu tidak sadar-sadar juga dan tetap saja merasa nyaman dengan kursi panasnya.

Pengendalian diri itulah kunci untuk melatih diri supaya hewan-hewan dalam diri kita jinak. Setelah jinak dan menurut barulah bisa ‘disembelih’.

Pengendalian diri sangatlah penting bagi seorang pemimpin supaya bisa mengendalikan orang lain. Mengendalikan orang lain adalah memimpinnya menuju kepada kesejahteraan dan kenyamanan. Kendalikan diri kita terlebih dahulu sebelum mengendalikan orang lain. Buat hewan dalam diri menjadi jinak terlebih dahulu baru menjinakkan hewan dalam diri orang lain.

Pengendalian diri, berkurangnya nafsu yang membara, tentunya ada sebuah cara yang mesti kita lakukan untuk itu semua. Dalam serat Wulang Reh karya Pakubuwono IV dikatakan:

Dipunsami ambanting sariranira, cegah dhahar lan guling,

Darapon sudaa, nepsu kang ngambra-ambra, rerema ing tyasireki,

Supaya nafsu yang membara berkurang dan hati tenang, usahakan selalu prihatin dengan mengurangi makan dan tidur.

Maka dari itu yang diperlukan adalah keseimbangan. Nasehat Wulang Reh adalah kurangi makan dan tidur. Ada kata ‘kurangi’ di sini bahwasanya banyak dari kita terlalu berlebihan dalam makan dan tidur.

Dengan mengurangi makan dan tidur kita bisa menambah kepekaan diri terhadap penderitaan orang lain. Kalau kita peka terhadap penderitaan orang lain, kita bisa prihatin, maka sifat itulah yang harus dimiliki oleh pemimpin sejati.

Prihatin dengan mengurangi makan dan tidur supaya nafsu yang berkobar berkurang. Lalu apa lagi?

Jelas ketenangan hati dan pikiran yang didapatkan. Kalau hati dan pikiran tenang, kita akan bisa melihat masalah dari beberapa sisi, dari beberapa sudut pandang. Kemudian kita bisa mengambil keputusan untuk suatu masalah dengan jernih sehingga  Dadi sabarang, karsanira lastari, terjadilah apa yang kita harapkan dan cita-citakan.

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “KEPEMIMPINAN”

Your email address will not be published. Required fields are marked *