0 item in the bag

No products in the cart.

Menerima

Begitu sulitkah apa yang dikatakan ‘menerima’ itu? Mungkin ya, dan memahami menerima sebagai pengalaman tidak semudah memahami menerima sebagai pengetahuan.

Categories: ,

Description

Menerima

Mungkin kita semua sadar bahwa tindakan menerima tidak semudah menuliskan kata menerima. Banyak hal dapat menjadi tidak sesuai dengan harapan dan bila itu harapan-harapan kecil, kekecewaan juga kecil. Lalu bagaimana dengan harapan besar? Tentu saja akan mengakibatkan kekecewaan yang besar pula.

Tidak semua rasa kecewa akan tampak sebagai rasa putus asa, meratapi diri, menyendiri sampai kondisi lemah bahkan sakit. Kadang rasa kecewa akan dilindungi oleh ‘bagian diri’ (ego state) yang kali pertama akan melahirkan apa yang disebut dengan ‘alter ego‘ – yaitu bagian diri yang muncul untuk membela apa yang dirasakan sebagai ketidakadilan baginya.

Ia akan tampak banyak tertawa (padahal hatinya menjerit) atau sangat aktif (workaholic) atau bahkan lahir tindakan-tindakan yang dikatakan melawan kemapanan (siapa saja dilawan untuk membuktikan dirinya tidak kecewa dengan harapan yang tidak terpenuhi).

Begitu sulitkah apa yang dikatakan ‘menerima’ itu? Mungkin ya, dan memahami menerima sebagai pengalaman tidak semudah memahami menerima sebagai pengetahuan.

Contoh mudah dan sederhana (jarang dibahas karena dianggap tabu) adalah soal seks. Bagaimana penerimaan wanita apabila selama kehidupan seksnya tidak pernah puas? Ada yang jujur mengatakan bahwa ia melampiaskan kekecewaan itu dengan ‘self service’ – memuaskan dirinya sendiri.

Namun tidak sedikit yang ternyata tidak dapat menerima hal itu dan lahir dalam bentuk sikap-sikap perlawanan lainnya dalam kehidupan sehari-hari. Bisa melawan kepada teman, kondisi, tetangga atau juga pemerintah.

Lalu bagaimana kita dapat menerima hal-hal yang mengecewakan kita? Hal-hal yang tidak sesuai dengan harapan kita?

Bersyukur? Benarkah? Coba dalam contoh seks di atas, ketika permainan seks selesai dan masih menyisakan rasa yang belum terpuaskan, kemudian coba bersyukur (tanpa menyelesaikan sendiri) – Mungkin syukur itu akan menjadi tindakan terpaksa yang sangat berat.

Ya, perjalanan hidup merupakan perjalanan penerimaan sepanjang hayat – Ini yang sebaiknya kita sadari dari awal, bahwa tidak semua yang kita harapkan akan menjadi kenyataan. Bukankah Tuhan akan memberikan apa yang kita butuhkan dan bukan apa yang kita inginkan? Lalu mengapa banyak orang tetap mengejar keinginannya dan bukan menjalani sesuai kebutuhannya? Bahkan banyak yang mengajak untuk membuat keinginan untuk diwujudkan!

Pagi ini, tidak ada salahnya kita mengucap terimakasih. Terimakasih saja dan untuk apa saja. Untuk nafas kita, untuk tubuh kita, untuk hal-hal yang masih dapat kita lakukan.

Mungkin selama ini, kita pun berterimakasih atas hal yang kita dapatkan (lagi-lagi keserakahan terselubung) – Bagaimana kalau kita berterimakasih atas hal-hal yang masih dapat kita lakukan?

Terimakasih aku masih mempunyai kekuatan untuk membantu orang lain.
Terimakasih aku masih bisa berguna bagi yang lain.
Terimakasih aku bisa memberi ..

Bahkan kadang, terimakasih pun, kita memilih atas apa yang kita dapatkan, dan bukan atas apa yang masih bisa kita lakukan dan berikan.

Menerima adalah proses belajar dan hal itu akan terus menjadi bagian dari hidup kita selamanya.

Salam damai

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “Menerima”

Your email address will not be published. Required fields are marked *