0 item in the bag

No products in the cart.

Nasi Diberi Kata Positif Tidak Busuk? Siapa Bilang?

Dasar ini pulalah yang kemudian dipakai oleh mereka yang menganut paham bahwa vibrasi mempengaruhi kehidupan di tingkat materi.

Categories: ,

Description

Nasi Diberi Kata Positif Tidak Busuk? Siapa Bilang?

Beberapa tahun yang lalu, bahkan sampai sekarang masih ada yang percaya dengan percobaan nasi yang ditempatkan pada dua tempat terpisah, kemudian yang satu diberi kata-kata positif dan yang satu diberi kata-kata negatif. Kedua nasi itu diperlakukan seperti itu selama seminggu. Kemudian hasilnya, nasi dengan kata positif tidak busuk dan nasi dengan kata negatif membusuk.

Percobaan tentang aplikasi dari kata-kata positif dan negatif menggunakan nasi itu berdasarkan ide dari percobaan terhadap air yang dilakukan oleh Masaru Emoto, yang kemudian terkenal lewat bukunya yang berjudul The Hidden Messages in Water. Asumsinya adalah sebagian besar tubuh kita adalah air, maka bila diperlakukan dengan kata-kata positif maka hasilnya akan seperti penelitian yang dilakukan, yaitu molekulnya berbentuk kristal yang indah yang diasumsikan sebagai kesehatan. Demikian pula bila sebaliknya.

Saya tidak membahas kata-kata positifnya, karena kata-kata positif, bagaimanapun juga akan lebih bermanfaat daripada kata-kata negatif. Yang saya bahas adalah tindakan ikut-ikutan yang dengan cepat membenarkan dasar argument yang diyakini sebagai sebuah penemuan ilmiah. Kemudian Masaru Emoto diyakini sebagai ilmuwan yang benar-benar melakukan percobaan efek dengan air yang hanya diberikan kata-kata.

Dasar ini pulalah yang kemudian dipakai oleh mereka yang menganut paham bahwa vibrasi mempengaruhi kehidupan di tingkat materi.

Banyak masyarakat kita yang masih ‘demen’ dengan pseudoscience sehingga menganggap bahwa itu ilmiah. Ilmu semu atau pseudosains (Inggris: pseudoscience) adalah sebuah pengetahuan, metodologi, keyakinan, atau praktik yang diklaim sebagai ilmiah tetapi tidak mengikuti metode ilmiah (Wikipedia). Saya tidak mengatakan bahwa psedosains itu buruk, menipu atau tidak bermanfaat. Tidak demikian. Selama jujur bahwa yang dilakukan adalah bukan ilmiah alias masih asumsi, hal itu akan menumbuhkan kedewasaan masyarakat dalam melihat ilmu pengetahuan.

Masaru Emoto sendiri berpendidikan resmi lulus dari Yokohama Municipal University dalam bidang Hubungan Internasional. Dan dikatakan juga bahwa “Emoto became a Doctor of Alternative Medicine at the Open International University for Alternative Medicine in India.” – Emoto menjadi Doktor Pengobatan Alternatif di Universitas Internasional Terbuka untuk Pengobatan Alternatif di India. (https://en.wikipedia.org/wiki/Masaru_Emoto)

Namun belakangan diketahui bahwa Open International University for Alternative Medicine (OIUA) is a Fake University targeted only targeting quacks to issue degrees – Universitas palsu yang hanya menargetkan untuk mengeluarkan gelar palsu.

(http://timesofindia.indiatimes.com/articleshow/67495657.cms?utm_source=contentofinterest&utm_medium=text&utm_campaign=cppst)

Baik, kita tidak akan membahas kepalsuan gelar Doktor itu. Mungkin saja itu dilakukan untuk mendukung apa yang dikatakan sebagai penelitian air tersebut. Sangat mungkin bahwa dokumen pendukung diperlukan untuk meyakinkan, ketika ada industri besar yang berkepentingan dengan hal itu. Kalau kita memperhatikan biografi di Wikipedia, sudah jelas dikatakan bahwa: Masaru Emoto (江本 Emoto Masaru, July 22, 1943 – October 17, 2014) was a Japanese author and pseudoscientist who said that human consciousness has an effect on the molecular structure of water. Di sana jelas dikatakan sebagai pseudoscientist.

Sampai di sini mudah-mudahan masyarakat paham bahwa Masaru Emoto bukan ilmuwan dan jangan ikut-ikutan menyebarkan berita bahwa perubahan molekul air karena getaran kata-kata adalah hasil dari penelitian ilmiah.

Sekarang kita beralih kepada percobaan dengan nasi. Nasi yang diberi kata-kata positif selama seminggu tidak basi, sementara nasi yang diberi kata-kata negatif selama seminggu akan basi. Kita juga terlalu cepat membenarkan hal ini. Mengapa terlalu cepat, karena banyak di antara mereka tidak melakukannya sendiri dan hanya yakin karena dasar argumennya adalah penelitian Masaru Emoto yang bergelar Doktor. Kemudian melakukan share ke teman lainnya dan teman lainnya juga share ke yang lain.

Ada pula yang melakukan percobaan itu hanya sekali. Bagaimana kalau dua kali, tiga kali, empat kali, atau sepuluh kali? Apakah hasilnya akan sama semua? Kalau ada yang melakukan percobaan itu lebih dari sepuluh kali, dan hasilnya sama semua, silahkan komen di sini.

Atau hampir semua yang melakukan percobaan itu dilakukan sendirian, sehingga tidak ada perbandingan dengan hasil lainnya. Atau juga, ada yang melakukan percobaan itu dan kedua nasi hasilnya busuk, tapi tidak diberitakan (yang mengalami pasti tertawa dan menyimpan ini untuk diri sendiri).

Saya mengatakan, tidak ada kaitannya kata-kata ataupun vibrasi dari kata-kata terhadap nasi. Saya ulangi bila belum jelas dan saya bold: tidak ada kaitannya kata-kata ataupun vibrasi dari kata-kata terhadap nasi.

Tahun 2014, saya melakukan percobaan ini dengan 20 orang lainnya. Hasilnya tidak sama semua. Ada yang nasi dengan kata positif tetap bagus dan kata negatif busuk. Ada yang keduanya bagus. Ada juga yang keduanya busuk. Ada pula yang nasi dengan kata positif busuk dan nasi dengan kata negatif hasilnya bagus!

kata negatif dan nasi busuk hitam, Kata positif dan nasi masih tampak putih

—————————————————–

Kata negatif dan nasi masih putih bersih

—————————————————-

Kata cinta dan nasih menjadi hitam busuk

Artinya, hal ini tidak dapat dijadikan argumen bahwa kata-kata, atau lebih spesifik adalah getaran yang dihasilkan oleh kata-kata dapat mengubah struktur nasi, atau kemudian digeneralisir bahwa kata-kata, atau lebih spesifik adalah getaran yang dihasilkan oleh kata-kata dapat mengubah materi!

Jangan terjebak dengan pandangan di atas, sehingga orang yang meyakini bahwa kata-kata, atau lebih spesifik adalah getaran yang dihasilkan oleh kata-kata dapat mengubah materi, yaitu kehidupan yang diharapkannya hanya dengan berperasaan positif saja. Yang penting adalah perasaan positif, dan hal-hal lain dalam kehidupan akan berubah mewujud dengan sendirinya.

Sekali lagi, perasaan positif, kata-kata positif itu bagus, baik dan bermanfaat. Namun ia tidak akan otomatis mengubah bentuk-bentuk materi. Lalu apa yang dapat mengubah bentuk materi? Yaitu tindakan kita.

Dalam buku Karma Yoga yang saya tulis, dikatakan demikian: “By knowing how to work, one can obtain the greatest results.” Dengan mengetahui cara bertindak, seseorang dapat memperoleh hasil terbaik. Lalu apa hubungannya, saran yang mengatakan agar kita menggunakan kata-kata yang positif dan berperasaan positif? Kalau perasaan positif tidak dapat mengubah materi, lalu apa yang dapat mengubah materi?

Urutanya demikian: Pertama adalah merasakan. Dari merasakan kemudian menjadi keinginan. Dari keinginan kemudian muncul kekuatan untuk bertindak. Dari tindakan akan menghubungkan dengan konstelasi getaran-getaran pikiran yang sama. sehingga terjadi intensifikasi tindakan atau tindakan berulang yang semakin besar. Jadi, kita disarankan untuk berkata positif dan berperasaan positif, bukan agar kita dapat mengubah materi dari tingkat getaran yang berubah (ini hoax), namun karena perasaan akan mempengaruhi keinginan, keinginan akan mempengaruhi tindakan. Dan ketika tindakan pertama sudah dilakukan ia akan mengalami intensifikasi tindakan atau tindakan berulang yang semakin besar. Karena itulah banyak yang mengalami ‘ketagihan’ hanya karena coba-coba pada tindakan pertama, dalam bidang apapun.

Apabila diambil hikmah dari viralnya buku air tulisan Masaru Emoto, (dan mari kita abaikan bahwa ia bukan ilmuwan dan gelar Doktornya palsu dari universitas yang palsu) adalah marilah kita berkata-kata positif dan berperasaan positif bukan karena penelitian ilmiah. Mengapa kita baru mau berkata dan berperasaan positif karena ada penelitian yang mengubah molekul air? Mengapa kita baru mau berkata dan berperasaan positif karena ada percobaan pada nasi?

Marilah kita berkata dan berperasaan positif karena hal itu akan melahirkan tindakan kita dan semakin sering tindakan kita lakukan ia akan mengalami pengulangan dan intensifikasi. Karena hidup anda tidak akan berubah hanya dengan berperasaan positif saja, tanpa anda menyadari bahwa kelanjutan perasaan positif akan melahirkan tindakan positif yang harus diimplementasikan dalam kenyataan sehari-hari.

Jadi bagaimana? Apakah anda masih ingin menyebarkan gambar nasi yang berubah jadi busuk hanya karena kata-kata negatif?

 

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “Nasi Diberi Kata Positif Tidak Busuk? Siapa Bilang?”

Your email address will not be published. Required fields are marked *